Cinta itu Absurd, Kursus pun Percuma karena berada di Posisi Silent Treatment

Apa sih modal utama dari suatu pernikahan? Uang Rp150 juta? Bisa jadi meski tak sepenuhnya benar. Modal utama dari sebuah pernikahan adalah cinta. Ibarat membangun rumah cinta adalah pondasinya.

Meski ada beberapa pernikahan yang dibangun bukan dengan cinta tapi demi perusahaan papa dan mertua berjaya. Untuk memahami apakah seseorang menaruh rasa kepada kita sejatinya tak perlu kursus apalagi sampai mengundang guru privat.

Cinta ada karena Komunikasi

Cinta sudah diberikan tuhan kepada umat manusia bahkan sebelum mereka mengenal bahasa ataupun tulisan. Tanpa ada bahasa yang baku, toh manusia purba tetap berketurunan, ya meski tidak didahului dengan pernikahan mungkin.

Atau bagaimana Bandung Bondowoso membangun 1.000 candi untuk membuktikan cintanya Semua karena cinta dan tentunya komunikasi. Memang Bandung Bondowoso asal saja membangun candi kalau tidak Roro Jonggrang bilang?

Dari zaman prasejarah hingga saat ini, cinta tumbuh karena adanya komunikasi. Tak mungkin bisa ada hubungan sakral seperti pernikahan seandainya si laki-laki dan perempuan tidak saling bicara terlebih dahulu.

Layaknya Kabel, Cinta juga Terkadang Ruwet

Bicara komunikasi, tentu tak bisa dilepaskan dari infrastruktur seperti kabel dan sama seperti kabel, cinta juga ruwet kadang-kadang. Itu bisa terlihat saat pasangan bertengkar karena salah satu dianggap kurang peka.

Rumah bisa berantakan layaknya kapal pecah hanya karena si istri ngambek akibat suami yang menggantung celana kotor selama berminggu-minggu atau suami kesal  karena istri lupa masak gegara nonton drakor.

Semua jadi ruwet karena sama-sama tak mau mengingatkan tapi berharap peka. Maka tak heran bisa bertengkar seharian hanya karena perkara sepele model handuk basah dan nonton drakor tadi.

Setiap Pasangan punya Tingkat Keruwetan yang Berbeda

Tingkat keruwetan dalam memahami satu sama lain pun berbeda tiap-tiap pasangan. Ada yang ketika bertengkar lalu langsung berbaikan. Yang seperti biasanya adalah pasangan baru menikah alias masih anget-angetnya.

Baca Juga  Jenis-jenis Cinta

Yang sudah di atas lima tahun seperti apa? Lazimnya pasangan senior bakal bertengkar berhari-hari karena gengsi minta maaf duluan. Kedua belah pihak akan sama-sama defense dan malas mengaku salah.

Semua itu lagi-lagi terjadi karena menuntut satu pihak untuk peka. Terasa menjengkelkan bukan? Pesan bagi yang masih mengandalkan ‘peka’ agar pasangan kita merasa bersalah. Ingat. Kalian sudah tua. Bukan dalam mode pacaran anak SMP atau SMA lagi.

Silent Treatment Merajalela

Percayalah, adu gengsi tidak bikin rumah tanggamu makin harmonis. Justru sebaliknya. Makin kacau. Silent treatment alias sama-sama diam jika ada masalah, pelan-pelan akan membuat pasangan kian renggang.

Jika sudah renggang dan malas berkomunikasi, bukan tidak mungkin salah satunya akan memilih pergi dari rumah. Wajar karena di rumah sendiri sudah tidak ada tempat berbagi. Padahal di awal pernikahan bisa ngobrol sampai larut malam.

Sudahi silent treatment itu apalagi jika sudah punya anak. Buah hati kita pun pasti bingung dan gelisah melihat orang tuanya ada di satu rumah, di satu kamar tapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Mau anak kita yang jadi korban?

Singkirkan Gengsi, Meminta Maaf bukan Berati Salah

Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan seseorang meminta maaf bukan karena ia sepenuhnya salah, melainkan tanda berjiwa besar. Tak perlu tunggu siapa yang sebenarnya salah.

Ada baiknya istri maupun suami meminta maaflah lebih dahulu dan janganlah ungkit-ungkit masalah yang jadi penyebab kalian tak bicara satu sama lain. Fokus pada hubungan ke depan dan anak yang juga tinggal di rumah bersama kalian.

Ayolah mulai coba untuk bicara. Tak perlu gengsi minta maaf duluan. Memang betah apa tinggal satu rumah tapi diem-dieman kayak patung? Sekali lagi keruwetan dalam hubungan rumah tangga itu solusinya satu: komunikasi.

Baca Juga  Apa itu Cinta?

Penulis: Lukman A. (Talhah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *