Selamanya, tidak akan pernah Mendapatkan Pasangan sebagai Manusia yang Sempurna

Seberapa pantas sih kamu untuk mendapatkan seseorang yang sempurna? Karena kamu punya paras rupawan, gelar akademis berderet, atau bahkan kerjaan top level bukan berarti kamu berhak dapat seseorang ter-perfect.

Tidak pernah ada pasangan yang sempurna, bahkan sekalipun sudah berada dalam rumah tangga. Wanita atau pria yang kamu lihat anggap paling cantik, paling bisa membahagiakan, toh saat ini kalau goreng tempe masih sering hangus.

Kekurangan dari Pasangan

Atau pria yang kamu rasa si paling peka, paling sering antar jemput, sanggup memberi seserahan ratusan juta. Nyantanya ketika berlabel suami masih sering menyimpan handuk basah di atas kasur atau bahkan pasang regulator gas pun kesulitan.

Memang tidak ada yang salah dengan selektif mencari pasangan. Tapi perlu ingat jika mencari pasangan bukan seperti mempersiapkan timnas untuk ikut Piala Dunia. Ketika turnamen sudah selesai, tim dibubarkan.

Tentu tidak ingin bukan kamu dan pasangan bubar begitu saja ketika sudah menjadi satu tim atau satu kesatuan? Dan kesempurnaan bukan jaminan untuk suatu rumah tangga terhindar dari prahara.

Pasangan Sempurna Mendekatkan Diri ke Overthinking

Bisa saja kesempurnaan malah akan mengakibatkan masalah-masalah baru datang silih berganti ke kehidupanmu dan pasangan. Ingat, punya pasangan yang sempurna dari segala aspek itu tidak enak lho!

Para suami coba ajak pasanganmu yang cantik dan punya badan bagus itu jalan ke mall atau muter-muter komplek tiap pekan. Mustahil jika tidak ada laki-laki yang coba-coba curi pandang dan berujung membuatmu risih.

Atau coba para istri yang memiliki suami tampan bertubuh atletis hasil nge-gym seminggu sekali. Apa yang dirasakan saat kantor meminta suamimu pergi ke luar kota bareng rekan kerjanya yang terkenal si paling aduhai?

Baca Juga  Bagaimana Mengelola Pasangan yang Emosional?

Insecure karena Kesempurnaan?

Baik pihak suami maupun istri, mustahil jika tidak merasa cemburu atau bahkan insecure. Saat dua perasaan itu muncul, bukan tidak mungkin malah akan menciptakan pertengkaran hebat yang ujungnya bertanya, ‘buat apasih punya pasangan sempurna?’

Apabila dalam kasus sebelumnya merasa pasangan terlalu sempurna malah tak bikin bahagian bagaimana jika mau sadar bahwa saat ini pasanganmu jauh dari kata sempurna? Tak perlu menyesal.

 Sejatinya memang tidak ada manusia yang sempurna. Daripada berkubang dengan penyesalan, “kenapa sih harus menikah sama dia?” lebih baik ambil langkah lain. Bukan. Bukan dengan cara berpisah.

Bentuk Pasangan, menjadi Sempurna versi Kita (Bersama)

Langkah yang harus kamu ambil adalah lebih ke membentuk pasanganmu sebagai seseorang yang selalu ada untuk selamanya. Turunkan egomu dan buang semua penyeselan. Ciptakan pribadi yang baru.

Dengan segala ketidaksempurnaan pasanganmu, cobalah untuk memahami beberapa sifat dan karakter jeleknya. Pelan-pelan bicara pada pasanganmu bahwa ada beberapa hal yang sepatutnya tidak dilakukan.

Bicara bahwa menaruh handuk basah di kasur itu buat sprei jadi cepat rusak. Bicara bahwa arisan bareng ibu-ibu komplek itu bikin pengeluaran rumah tangga perbulan membengkak. Bicarakan baik-baik.

Pasangan yang mau Menemani Selamanya

Cepat atau lambat, pasanganmu akan mengerti bahwa dirinya selama ini punya seseorang yang selalu ada selamanya. Tak hanya untuk memuji tapi juga untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

Pada intinya terlalu sempurna atau tidak sempurna sama sekali bukanlah tolok ukur kebahagiaan sejati dalam sebuah hubungan, terutama rumah tangga. Sebuah hubungan yang berakhir saat maut memisahkan.

Kunci kebahagiaan bersama pasanganmu saat ini adalah dengan saling menerima kekurangan masing-masing, saling memahami karakter dan memberikan rasa nyaman. Tiga hal itu dijamin antar mengantarkan pada kebahagiaan.

Baca Juga  Hubungan Terbuka ke Pasangan Seperti Apa Sih?

Penulis: Lukman A. (Talhah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *