Untuk Hati yang Tetap Setia, Ada Waktunya Kembali ke Pemiliknya

Terkadang kesetian tak selalu berakhir dengan kebahagiaan. Apalagi saat pasanganmu tak sepenuhnya benar-benar bisa hidup mandiri. Meski telah menikah, nyatanya pasanganmu tak lebih dari anak kecil yang apa-apa selalu ibu.

Dimana seorang ibu menjadi pemilik utama dari pribadi anak itu meski sang buah hati saat ini telah memutuskan untuk menjalani sebuah hubungan sakral bernama pernikahan. Ya, tak sedikit yang setia tapi tersakiti mertua.

Ada Anak yang harus selalu Menang, Ada Anak yang harus Kalah

Impian setiap orang yang akan menikah memiliki mertua yang baik, penyabar, dan mau memperlakukan kita layaknya anak sendiri. Hal itu lumrah, karena saat memutuskan menikah di saat itu pula memutuskan bertemu orang-orang baru.

Orang-orang baru yang pasti akan kamu temui pertama adalah orang tua dari pasanganmu. Seiring berjalannya waktu akan kamu panggil mereka dengan sebutan mertua. Lazimnya calon menantu, agar hubungan berjalan mulus, pasti kamu akan bersikap baik ke mereka.

Namun layaknya seorang ibu, mertua tetap ingin yang terbaik bagi anaknya. Berharap sang anak selalu dapat kemenangan dalam banyak hal layaknya lomba-lomba semasa sekolah. Meskipun itu harus menyakiti orang lain.

Sebaiknya Lupakan dapat Orang Tua Baru

Di kota-kota besar, beberapa meski tak sebagian kasus perceraian berawal dari ikut campur mertua yang endingnya entah mengapa pasti ada yan tersakiti. Kita yang berharap mendapatkan orang tua baru, memperoleh perhatian dari orang tua pasangan. Nyatanya tidak.

Kesetian dan rasa cinta pada pasangan memang hanya bisa meluluhkan hati orang yang kamu cintai tapi tidak dengan orang tuanya. Lalu apa yang harus dilakukan saat kesetiaan bahkan tak membuat pasangan membelamu di depan ibu dan bapaknya?

Baca Juga  Hubungan yang Romantis seperti Apa?

Tokoh agama hingga praktisi pernikahan sepakat bahwa mertua harus diperlakukan selayaknya orang tua sendiri. Namun pada praktiknya saat ini, mereka tak lebih dari penghancur kebahagiaan, terutama istri.

Cobalah Berdamai, itupun kalau Kamu Mau

Segala sesuatu yang tak mengenakkan bisa selesai, salah satunya dengan berdamai. Pilihan kembali ke kamu. Semisal kamu kekeuh ingin tinggal di rumah sendiri, tapi mertua memaksa anak menantunya tinggal di pondok mertua indah. Coba berdamai.

Katakan jika kamu ingin merasakan berumah tangga yang benar-benar mandiri. Izinkan mertuamu sesekali menjenguk anak dan cucunya. Bilang bahwa pintu rumahmu akan selalu terbuka lebar bagi orang tua pasanganmu.

Namun apabila orang tua pasanganmu masih teguh pada pendiriannya dan cenderung menyepelekanmu bahkan berkomentar negatif, kamu tahu harus berbuat apa. Ya, kesampingkan dulu kata damai yang mungkin membuat hatimu sakit untuk kesekian kalinya.

Kembalikan saja Ia ke Pemilliknya, tak Perlu Pusing

Sebagai orang yang melahirkan serta membesarkan dari lahir, wajar jika mertua merasa mereka atau ialah pemilik seratus persen dari pasanganmu. Dimana sebagai pemilik tentu punya kuasa atau sesuatu yang dimilikinya 100 persen.

Tak perlu lagi dan lagi mempertahankan kesetiaan, terlebih jika pasanganmu lebih condong ke orang tuanya. Tugasmu, kembalikan hanya perlu mengembalikan ia ke pemliknya. Dalam sebuah hubungan tak bisa kamu berjalan sendiri ataupun berjalan lebih dari dua orang. Tidak sehat.

Bila pasanganmu merasa sangat perlu kehadiran orang tuanya di tengah rumah tangga, itu haknya. Hak kamu juga untuk keluar dalam hubungan yang sulit disebut sebagai rumah tangga itu. Mungkin sisa hidupmu sejatinya adalah untuk membahagian orang tua kandungmu sendiri.

Penulis: Lukman A. (Talhah)

Baca Juga  Apa itu Setia? Cek Cara Mempertahankan Kesetiaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *