Punya pasangan yang manipulatif dan sering playing victim lebih baik ditinggalkan, jika cara itu dirasa benar. Sering kita dengar istilah pasangan manipulatif namun tidak tahu arti sesunggunhya. Apakah pasangan kita bisa berubah warna kulit macam bunglon?
Jika rasa cinta dan keinginan berbagi masih ada di muka bumi, rasanya tidak ada manusia yang tidak ingin punya pasangan. Ada beberapa tujuan seseorang ingin memiliki pasangan hidup. Mulai dari memiliki keturunan, ada tempat curhat hingga membuktikan kejantanan. Bagi laki-laki tentunya.
Mencari Pasangan
Sayangnya, mencari pasangan tak semudah mencari sekolah negeri di kota-kota besar. Bahkan lebih sulit dari menemukan huruf ‘N’ di salah satu bungkus permen karet terkenal. Banyak perintilan yang harus perhatikan saat memutuskan untuk mencari pasangan.
Salah satu yang penting adalah sifat. Tentu kamu tidak ingin menghabiskan hidup dengan orang yang salah, bukan? Ramai diperbincangkan saat ini adalah soal pasangan manipulatif seperti yang sebelumnya sempat disinggung.
Apa sih pasangan manipulatif? Manupalitif jika mengacu pada arti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB) bersifat manipulasi alias memalsukan. Singkatnya pasangan manipulatif adalah orang paling dekat dengan kita dalam hal ini suami atau istri yang sering berpura-pura.
Merasa Baik-baik saja atau Tersakiti
Tentu bukan berpura-pura menjadi superhero dalam film-film Marvel tapi lebih ke menempatkan diri sebagai pribadi paling tersakiti. Dalam sebuah hubungan tentu wajar bila sekali dua kali bertengkar. Anggap saja bumbu dalam sebuah relationship.
Namun yang menyebalkan setelah pertengkaran itu terjadi, alih-alih mau saling introspeksi yang ada malah satu pihak merasa “si paling kena mental”. Setelahnya pihak si yang merasa paling tersakiti itu akan melakukan cara-cara seolah dialah korbannya.
Di situlah mulai muncul pasangan manipulatif. Banyak hal didunia ini solusinya adalah berpisah. Berpisah dari pekerjaan yang bosnya toxic plus gaji di bawah UMR Jakarta. Termasuk berpisah dari pasangan yang manipulatif.
Berpisah Langkah yang Tepat, Terbebas dari Pasangan Manipulatif
Sebenarnya tidak ada salahnya memberi kesempatan kedua bagi pasangan kita untuk memperbaiki diri dan tak lagi berupura-pura menjadi si paling tersakiti dalam hubungan. Namun dalam beberapa kasus, mempertahankan pasangan manipulatif adalah berakhir pada tindakan kekerasan.
Meski bisa dilakukan dua belah pihak, namun kecenderungan laki-laki yang selama ini sering bersikap manipulatif tak segan-segan untuk menampar bahkan menganiaya pasangan. Jadi memberi kesempatan kedua bagi pasangan manipulatif jelas-jelas kesalahan besar.
Sehingga dibanding mempertahankan pasangan yang menyiksa lahir batin seperti itu, pisah jauh lebih baik. Cobalah untuk berbicara baik-baik dengan pasanganmu bahwa tidak ada yang bisa diperbaiki lagi. Tegaskan padanya jika selama ini sikapnya sudah memuakan dan membahayakan mental dan fisik.
Playing Victim, Bukanlah Hal yang Bagus!
Jika pasanganmu yang manipulatif itu malah bereaksi dengan membuat unggahan di media sosial seakan-akan kamu yang salah, tak perlu digubris. Karena sejatinya ia tengah mencari perhatianmu. Diamkan saja karena ia akan lelah dengan sendirinya dan perlahan bakal menjauh dari hidupmu.
Beri waktu untuk diri sendiri dengan cara berlibur atau melakukan hal yang disukai setelah berpisah dengan pasanganmu. Bisa berbelanja, jalan-jalan ke luar negeri atau bahkan sekadar mengambil kursus keterampilan.
Satu hal yang perlu kamu ingat. Setelah berpisah dengan pasangan manipulatif dan kamu anggap langkah itu dirasa benar, tak perlu buru-buru mencari pasangan baru. Cobalah untuk selektif dan mempertimbangkan lebih matang. Siapa tahu sendiri sampai nanti justru pilihan yang terbaik.
Penulis: Lukman A. (Talhah)