Ada Jiwa yang Tersakiti, Demi Senangkan Ibu Rumah Tangga

Menjadi ibu rumah tangga sering identik dengan di rumah saja, tidak punya pekerjaan, bisa tidur-tiduran di rumah sambil nonton televisi. Beraktivitas hanya saat suami pulang kerja. Nikmat sekali menjadi ratu di rumah.

Tak perlu capek-capek mengejar kereta commuterline di jam 4 subuh, tak usah repot-repot menyiapkan presentasi rapat, hingga paling enak (dianggapan orang lain) butuh uang tinggal minta. Menyenangkan bukan jadi ibu rumah tangga?

Impian (Sebagian) Mahasiswi Semeter Akhir

Sering bukan melihat sekumpulan ibu-ibu jam pagi atau menjelang siang kumpul-kumpul entah itu di teras rumah tetangga sampai pos ronda, ngobrol banyak hal. Nikmat sekali di saat beberapa wanita harus menghadapi banyaknya pekerjaan di kantor atau tugas menumpuk di kampus.

Makannya tidak heran jika mahasiswi semester akhir yang pusing dengan skripsian, mengejar dosen pembimbing yang seminggu gak ada kabar, uang kiriman orang tua habis, memilih jika bisa menjadi ibu rumah tangga saja.

Bagi sebagian mahasiswi tentunya, menikah, menjadi ibu rumah tangga, dan mendapat uang jatah bulanan dari suami sesuatu yang menggembirakan. Tidak perlu berjibaku melamar kerja bersaing dengan ratusan fresh graduate lainnya.

Full Time Ibu Rumah Tangga, Half Time Manusia

Saat sensus penduduk terutama jelang pemilu seperti sekarang, jika seorang full time ibu rumah tangga ditanya pekerjaan, pasti tidak jauh-jauh dari jawaban ibu rumah tangga atau bahkan tidak bekerja. Benarkah seorang ibu rumah tangga adalah sosok pengangguran?

Menarik ditelaah dimana posisi ibu rumah tangga yang 24 jam di rumah saja. Disebut tidak bekerja, dari bangun tidur alias pagi buta mereka sudah menyiapkan keperluan suami dan anak, memasak untuk sarapan dan makan siang.

Baca Juga  Cara Menjaga Kasih Sayang agar Pernikahan tetap Langgeng

Lanjut lagi dengan beres-beres, memandikan anak bahkan jika punya bayi atau balita. Pekerjaan mereka banyak, tapi di akhir bulan, tak sekalipun mereka menerima gaji atau bahkan minimal upah. Jadi sebenarnya ibu rumah tangga pekerjaan atau bukan?

Ibu Rumah Tangga juga Berhak Healing

Jika kamu pikir yang berhak healing-healing tipis tiap weekend hanya karyawan yang kerja di SCBD saja, oh salah besar! Dengan pekerjaan yang segabreg dan tanpa digaji, rasanya siapa yang paling pantas banyak waktu berliburnya adalah ibu rumah tangga.

Jadi bagi yang punya pasangan berstatus ibu rumah tangga, jangan pelit untuk mengeluarkan uang untuk keperluan liburan dan beli skincare pasanganmu. Dia sudah mewakafkan hidupnya 24 jam agar rumah rapi, anak bersih, dan kamu jauh dari gunjingan tetangga.

Banyak yang meyakini jika membahagiakan istri terutama mereka 100 persen ibu rumah tangga akan mendatangkan rezeki. Rezekinya tak hanya ke dirimu sebagai pasangan, tapi juga ke istri dan anak-anakmu dari asal yang tak pernah diduga sebelumnya.

Tak Ada Salahnya Membantu Sesekali

Meski istrimu pribadi yang tangguh dan tak ingin urusan rumah tangga lepas darinya, sebagai pasangan yang baik cobalah sesekali untuk membantu wanita berjuluk ratu di balik pintu itu. Di akhir pekan misalnya kerjakan yang sehari-hari pasanganmu kerjakan di rumah.

Saat kamu mengerjakannya, mintalah ia pergi ke salon kesayangan, ke mall beli baju dan skincare jika perlu mintalah dia membeli makanan kesukannya. Tentunya dengan sebelumnya terlebih dahulu beri ia uang. Menjadi IRT tak berarti dapat semua secara gratis bukan?

Tak perlu gengsi melakoni pekerjaannya, kamu tentu tidak tahu bukan bahagianya jika pasanganmu yang ibu rumah tangga itu punya me time setelah berhari-hari terbelenggu dari balik pintu rumah.

Baca Juga  Cinta Bisa Bertahan Berapa Lama?

Penulis: Lukman A. (Talhah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *