Siapa sangka si dia yang kamu kenal penyabar, alim, dan tak pernah marah ternyata setelah menikah malah seperti Hulk. Sering banting-banting. Bukan cuma piring atau wajan, dirimu juga acap kali dibanting dengan tangannya.
Dalam diri seseorang siapa yang tahu kecuali dirinya sendiri dan Tuhan. Kamu sebagai pasangannya tidak akan pernah aslinya dia seperti apa. Seseorang yang selama ini kamu kenal pribadi yang baik, di kemudian hari bisa saja berubah jadi si gampang main tangan.
Ada Baiknya jangan dulu Menghakimi
Meski diam jelas bukan respon positif atas perlakuan kasar yang kamu terima dari pasangan, namun bertindak gegabah juga bukan solusi. Apa harus lapor ke pihak berwajib? Tahan dulu. Jika misal perlakuan kasar baru pertama kamu alami, bicara baik-baik dulu.
Apabila selama 10 tahun menikah, pasanganmu baru pertama kali melakukan kekerasan fisik (jenisnya apa saja bisa bayangkan sendiri lah), mungkin saja karena dia memang sedang pusing. Bisa pusing karena kerjaan atau situasi politik yang memanas. Bisa saja kan?
Ajak pasanganmun duduk di ruang keluarga. Berikan dia teh hangat atau secangkir kopi panas. Tanyakan mengapa bisa sampai kelepasan melakukan kekerasan? Jika memang tidak sengaja pasti ia akan menyesal dan tulus meminta maaf.
Ambil Jalur Hukum jika memang sudah Kelewatan
Bicara baik-baik sudah dan memaafkan juga sudah tapi masih sering main tangan? Ambil tindakan yang memang diperlukan. Kamu dinikahi untuk dibahagiakan dijadikan seseorang yang paling spesial. Bukan samsak tinju!
Bicara blak-blakan ke orang tua pasanganmu atau sekalian saja lapor pihak berwajib jika memang dirasa sudah membahayakan. Sudah tidak artinya lagi bicara dari hati ke hati pada orang yang jangankan hati, otak aja sudah tidak punya.
Percaya atau tidak pada tahun 2022 berdasarkan data Badan Pusat Statistik hampir 15 persen penyebab perceraian adalah karena faktor kekerasan dalam rumah. Diam tak percaya saat main tangan jadi kebiasaan bukan respon positif.
Tak perlu Takut Soal Masa Depan
Masa depan ditentukan diri sendiri. Membawa pasanganmu ke jalur hukum karena sering main tangan adalah salah satu langkah menciptkana masa depan lebih baik. Memangnya kamu mau terus-terusan jadi samsak?
Wajar sih jika kamu mengkhawatirkan kehidupan setelah tanpa dia. Lebih-lebih kalau selama ini kamu bergantung ke pasangan. Tapi coba deh diingat-ingat lagi. Sudah berapa lama kamu menahan sakit sendirian? Seberapa sering kamu merasa tidak aman saat bersamanya?
Life must go on. Kamu berhak melanjutkan hidupmu tanpa perlu lagi takut dikasari. Apabila kamu tidak putus asa dan ikhlas atas apa yang telah terjadi, masa depan yang lebih baik cepat lambat akan berada dalam genggaman.
Buka Diri untuk Orang Baru, Jangan Tenggelam dalam Trauma
Selain waktu, penyembuh terbaik bagi luka batin adalah orang yang baru. Coba deh kamu mulai buka hati agar bisa mendapatkan pasangan yang baru. Memang berat karena masih ada trauma di masa lalu. Tapi mau sampai kapan?
Kamu berhak merasakan kasih sayang dari orang lain. Kamu berhak bahagia dengan seseorang yang memang menginginkanmu dari hati. Tak perlu cepat-cepat. Bisa coba dengan bertanya ke teman terdekat apa punya kenalan atau tidak.
Jika ada, cobalah dulu berkenalan. Hitung-hitung kesempatan untuk punya teman baru. Syukur-syukur bisa lanjut sampai ke jenjang yang serius. Jangan lupa untuk ceritakan masa lalu dimana pernah menjadi korban kekerasan. Agar hubungan baru dimulai dengan keterbukaan.
Penulis: Lukman A. (Talhah)