Seperti Apa Pernikahan Toxic? Berikan Langkah Terbaik jika Terjebak Hal Itu

Pernah mendengar istilah pernikahan toxic? Apakah pernikahan yang rumahnya berisi barang-barang dan limbah beracun? Tentunya tidak. Istilah pernikahan toxic menjadi sesuatu yang sering didengar dalam 5 sampai 6 tahun terakhir.

Istilah pernikahan toxic muncul di timeline sejumlah platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Istilah itu biasanya muncul berbarengan dengan curhatan seorang istri yang merasa rumah tangganya sudah tidak harmonis.

Ketidakharmonisan jadi Bom Waktu dalam Pernikahan?

Rasanya tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin hubungan pernikahannya berantakan. Idealnya setelah menikah lalu menjalani kehidupan bersama pasangan dengan menyenangkan. Tapi nasib dan takdir siapa yang tahu?

Hubungan yang manis dan indah di awal harus mengalami prahara di pertengahan yang membuat pernikahan serasa di ujung tanduk. Banyak faktor yang memyebabkan rumah tangga berantakan. Mulai dari ekonomi hingga hilangnya rasa saling percaya satu sama lain.

Mulanya memang berawal dari pertengkaran kecil, namun setelah itu membesar. Terlebih saat salah satu mulai berubah ekstrem. Mulai main tangan,  tidak pulang berhari-hari, hingga yang paling parah membawa orang ketiga dalam rumah tangga yang sedang dijalani.

Tanda Masuk ke Fase Pernikahan Toxic

Mayoritas pasangan suami istri, di awal pernikahan pasti saling berjanji jika ada masalah akan  selalu bercerita. Seberat apapun masalah yang dihadapi. Alasannya simpel. Karena bila sudah terikat pernikahan tak ada lagi masalah aku, tapi masalah kita.

Namun bila kamu merasa saat ini masalah yang dihadapi serasa ditanggung sendiri, bercerita ke pasangan tapi dia tak merespon, dan lebih banyak diam, sejatinya itu tanda sudah memasuki fase pernikahan toxic. Wajib mawas diri.

Tanda lain dari pasangan telah masuk ke fase pernikahan toxic adalah seringnya bertengkar hanya karena alasan sepele. Seolah-olah setiap masalah layaknya hujan di bulan Desember: datang setiap hari. Parahnya lagi sebagai pasangan, kedua pihak saling menyalahkan.

Baca Juga  Fenomena Toxic di Media Sosial dan Dampaknya pada Hubungan

Mulai Main Tangan dan Makan Hati

Saling menyalahkan bukan puncak dari pernikahan toxic. Masih ada sejumlah insiden dimana ada baiknya mulai berpikir untuk keluar dari hubungan sudah tidak sangat sehat itu. Itu terjadi dimana saat salah satu, baik itu suami atau istri mulai main tangan alias lakukan KDRT.

Kekerasan dalam hubungan pernikahan yang toxic tak hanya secara fisik, tapi juga mental. Dimana salah satu pihak berusaha mengontrol hidup pihak lainnya. Ketika semua kekerasan itu terjadi dan dialami, tak usah ragu untuk menyudahi hubungan sakral itu. Kamu bukan samsak tinju.

Mempertahankan pernikahan layaknya neraka tersebut hanya membuatmu lelah. Pergilah ke orang tuamu. Jujur tentang apa yang sedang dialami saat ini. Tak perlu ditutupi karena malu ke orang tua atau tetangga. Nyawamu sedang terancam!

Beri Pelajaran Setimpal!

Hidup dalam hubungan pernikahan toxic sama seperti kamu hidup di neraka dunia. Semakin lama kamu menjalaninya, semakin tersiksa. Bahkan bila sudah ada tindak kekerasan fisik, jangan diam. Selain kamu melapor ke orang tuamu, laporkan juga ke pihak berwajib.

Orang yang sudah melakukan tindak kekerasan bukan lagi pasanganmu, tapi seorang psikopat yang sebaiknya mendekam di balik jeruji besi. Untuk bangkit setelah bertahun-tahun dalam hubungan toxic, kamu tidak perlu dulu mencari orang lain untuk kembali menjalani sebuah hubungan.

Pelan-pelan. Beri waktu untuk dirimu merenung dan berpikir apa langkah apa yang ke depannya bakal diambil. Bahkan jika perlu ada baiknya dirimu berlibur melepaskan penat. Jangan lupa untuk berdoa agar terhindar dari orang jahat, terutama pasangan toxic.

Penulis: Lukman A. (Talhah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *